YamaShelf lahir dari kegelisahan yang sama dirasakan hampir semua mahasiswa: kenapa buku kuliah yang cuma dipakai satu semester harus berakhir menumpuk di gudang? Ini cerita tentang bagaimana kami menjawabnya.
Setiap semester, ratusan buku berhenti dipakai bukan karena tidak berguna, tapi karena pemiliknya sudah lulus mata kuliah. YamaShelf hadir supaya buku itu bisa terus berpindah tangan dan terus bermanfaat.
Setiap penjual dan pembeli di sini adalah bagian dari komunitas kampus yang sama — bukan toko buku anonim. Transaksi terasa lebih dekat, lebih jujur, dan lebih bisa dipercaya.
Rata-rata buku di sini terjual dengan potongan signifikan dari harga aslinya — cukup untuk meringankan sedikit beban biaya kuliah tiap semester.
Alih-alih tersimpan diam di gudang atau rak yang terlupakan, buku yang sudah tidak terpakai berpindah ke tangan mahasiswa lain yang justru sedang mencarinya.
Kampus UYM
Semuanya berawal dari hal sederhana: melihat buku-buku semester lalu teronggok di kosan, sementara di sisi lain ada adik tingkat yang justru kesulitan mencari edisi yang sama dengan harga yang wajar.
Dari situ, kami — mahasiswa Universitas Yatsi Madani — membangun YamaShelf sebagai proyek nyata sekaligus jawaban atas masalah yang kami sendiri rasakan: pasar buku bekas antar mahasiswa yang mudah dipakai, jujur soal kondisi barang, dan tetap terasa seperti transaksi antar teman kampus.
Kami tidak sedang membangun toko buku baru. Kami sedang membangun cara supaya buku yang sudah ada, sampai ke tangan yang tepat. — Tim Pengembang YamaShelf
Mengumpulkan masukan langsung dari mahasiswa lintas program studi mengenai kesulitan mencari buku kuliah dengan harga wajar dan kondisi yang bisa dipercaya.
Menyusun konsep antarmuka bergaya katalog perpustakaan — hangat, akrab, dan personal — supaya menjelajah buku terasa seperti membuka rak sungguhan, bukan sekadar daftar belanja.
Membangun halaman beranda, katalog, detail buku, keranjang, hingga form akun menggunakan PHP sebagai dasar templating dan struktur halaman.
Menghubungkan seluruh alur — katalog, keranjang, transaksi, notifikasi, hingga akun mahasiswa — ke basis data MySQL sungguhan, lengkap dengan sistem login dan pengelolaan stok.
Menghaluskan pengalaman pengguna lewat micro-interaction, animasi saat scroll, dan detail visual kecil — supaya setiap halaman terasa hidup, bukan sekadar formulir digital.
"Awalnya cuma iseng jual buku semester lalu, eh ternyata banyak juga yang butuh. Rasanya senang buku yang tadinya nganggur jadi berguna lagi buat orang lain."
Rafi H. — Bisnis Digital
"Yang paling kerasa itu rasa percayanya — sama-sama mahasiswa UYM, jadi lebih tenang pas transaksi ketimbang beli dari orang yang gak dikenal sama sekali."
Salsa W. — Ilmu Keperawatan
"Suka sama idenya karena kerasa dibangun buat kebutuhan kita sendiri, bukan sekadar marketplace umum yang ditempel-tempelin buat mahasiswa."
Dimas A. — Ilmu Komputer